News Detail

Evaluasi Kemampuan

 

Evaluasi Kemampuan

Oleh Sekretaris Jenderal Divisi Administrasi, Anggota dan Kebijakan

 

Setiap tenaga kesehatan Indonesia dituntut untuk terus melakukan pengembangan diri dan kemampuan sesuai profesinya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 46 Tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan dan PMK Nomor 80 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Ijin Praktik Fisioterapi yang kesemuanya mewajibkan tenaga kesehatan, termasuk fisioterapi wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR).

Bagi mahasiswa yang baru lulus, STR didapat setelah lulus pendidikan dan memiliki ijasah serta mengikuti uji kompetensi dan mendapatkan sertifikat kompetensi. Namun bagi fisioterapis yang sudah punya STR harus masuk dalam program P2KB online. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB) online bisa diakses fisio dari web resmi IFI di www.ifi.or.id . P2KB user ID dan password yang baru bisa dimintakan ke pengurus Ikatan Fisioterapi (IFI) Cabang tempat fisioterapis bekerja atau mendaftarkan diri di daerah tersebut atau bila belum terdaftar di cabang dapat daftar langsung di web resmi IFI.

Segala ketentuan perpanjangan STR ini wajib dipatuhi tenaga kesehatan, termasuk fisio. Apabila tidak memenuhi persyaratan P2KB dan kecukupan jumlah SKP, maka fisioterapis harus mengikuti evaluasi kemampuan. 

 

Apa sih Evaluasi Kemampuan?

Evaluasi Kemampuan atau disingkat menjadi EK adalah sebuah sistem yang dibuat oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) dibawah wewenang Kementerian Kesehatan untuk menilai kemampuan tenaga kesehatan sesuai dengan standar yang berlaku dan ditetapkan bersama organisasi profesi di Indonesia. Evaluasi kemampuan dalam bentuk ujian berbasis komputerisasi, dengan menjawab 100 soal seputar ilmu pengetahuan tenaga kesehatan sesuai dengan profesi masing-masing. Evaluasi kemampuan merupakan tahapan selanjutnya dari uji portofolio P2KB, dimana saat tenaga kesehatan gagal memenuhi kecukupan Satuan Kredit Poin (SKP) pada borang P2KB online untuk melakukan registrasi ulang STR.

 

Apa dasar pelaksanaannya?

Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No. 46 Tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan, pasal 6:

"Dalam hal tenaga kesehatan tidak dapat memenuhi ketentuan persyaratan perpanjangan STR yang meliputi: a)  pengabdian diri sebagai tenaga profesi atau vokasi di bidang kesehatan; dan b) pemenuhan kecukupan dalam kegiatan pelayanan, pendidikan, pelatihan, dan/atau kegiatan ilmiah lainnya maka Tenaga Kesehatan tersebut harus mengikuti evaluasi kemampuan."

 

Misalnya,

seorang fisioterapis A. STR nya habis 2016, untuk mendapatan STR yang baru melalui proses re-registrasi. Maka fisio A harus melakukan pengisian borang di P2KB online. Fisio A sudah mengisi P2KB, tapi baru mencapai 5 SKP saja. Fisio A menghubungi IFI Cabang untuk mengetahui apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dan IFI Cabang pun sudah membantu fisio A ini untuk memenuhi kecukupan SKP dengan menyarankan mengikuti bakti sosial dan seminar-seminar, namun kecukupan SKP hanya sampai 10 SKP saja. Sementara ketentuan profesi menyatakan batas lulus dan dapat surat rekomendasi re-registrasi STR bila mencukupi 25 SKP dalam waktu 5 tahun.  Dan berhubung sudah habis batas waktu pengisian di P2KB, dan kurang jumlah SKP, maka fisio A dijadwalkan IFI Cabang wajib mengikuti evaluasi kemampuan (EK).

 

Proses panjang penyusunan sampai penyelenggaraan evaluasi kemampuan telah dilakukan IFI dan MTKI. Mulai dari penyusunan blue print evaluasi kemampuan, penetapan hingga dilakukan workshop, kemudian penulisan materi uji beberapa kali, hingga pengujian panel ahli. Sampai sekarang proses menuju evaluasi kemampuan masih terus berproses, sampai nanti diadakannya evaluasi kemampuan.

Peserta Evaluasi Kemampuian nantinya akan dapat melakukan ujian onlin dimana pun berada, dengan perangkat komputer dan basis internet. Waktu pelaksanaan ditentukan oleh IFI dan MTKI, dan dilakukan secara periodik, tiap tiga bulan sekai di bulan Januari, April, Juli dan Oktober atau setiap waktu sesuai ketentuan PP-IFI.

Peserta Evaluasi Kemampuan akan dikategorikan sesuai dengan jumlah kekurangan SKP. Yaitu:

  • Kategori A : Perolehan SKP 20 - 24 SKP
  • Kategori B : Perolehan SKP 15 - 19 SKP
  • Kategori C : Perolehan SKP 10 - 14 SKP
  • Kategori D : Perolehan SKP 5 - 9 SKP
  • Kategori E : Perolehan SKP 0 - 4 SKP

 

Pilihan soal yang tersedia dibuat dari berbagai pendekatan keilmuan fsioterapi sesialistik, antara lain: neurologi, orthopedi (muskuloskeletal), kardiopulmonal, pediatrik, sport dan trauma serta kategori umum. Sebanyak 100 soal yang dikerjakan dalam waktu 90 menit.

Berdasarkan hasil Kongres Nasional Fisioterapi Indonesia XII di Bali (2016), telah ditetapkan biaya evaluasi kemampuan. Apabila tidak langsung lulus, maka peserta harus mengulang ujian kembali dan dikenakan biaya ujian remedial ke-1.

Mekanisme evaluasi kemampuan yang akan diikuti nantinya, kepada peserta wajib mengunggah seluruh perolehan SKP dan dokumen persyaratan di aplikasi P2KB Online Ikatan Fisioterapi Indonesia , antara lain: STR lama, Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi, jika ada, surat keterangan sehat fisik dan mental, SIPF, Ijazah terakhir, Sertifikat Sumpah Profesi / Surat Pernyataan mematuhi Kode Etik Fisioterapi, Pas foto berwarna ukuran 4x6 (5 lembar), bukti biaya resertifikasi. Kemudian akan diberikan akun login ke evaluasi kemampuan.

 

Sementara bagi calon peserta evaluasi kemampuan dengan metode OSCE, Pengurus pusat IFI melakukan pendataan dan menetapkan jadwal dan tempat pelaksanaan Evaluasi Kemampuan fisioterapi dan memberitahukan kepada pemohon melalui email. 

 

Pemohon yang mengikuti evaluasi kemampuan dinyatakan lulus apabila mencapai target nilai sesuai ketentuan dan kepadanya akan diberikan rekomendasi perpanjangan STR dan bagi yang dinyatakan tidak lulus diberi kesempatan untuk mengikuti evaluasi kemampuan ulang. Kesempatan mengulang evaluasi kemampuan diberikan sebanyak 2 kali, jika setelah 2 kali mengulang dan nyatakan gagal maka yang bersangkutan harus mengikuti pendidikan dan pelatihan ditempat atau lembaga pelatihan yang ditunjuk oleh Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI).

Kami dari Pengurus Pusat Ikatan Fisioterapi Indonesia, berharap fisio Indonesia dapat memenuhi kredit poin SKP sesuai di P2KB tanpa harus mengikuti Evaluasi Kemampuan.[Byan]

 

*Artikel lengkap dapat dibaca di Majalah Fisioterapi Indonesia edisi 2017


Related News